SMs

… cz litle* jg cARe bot u *_*

Cinta Terlarang

Kau kan slalu tersimpan di hatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku

Tuhan berikan aku cinta satu kali lagi
Hanya untuk barsamanya
Ku mencintainya sungguh mencintainya

Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya

Mengapa cinta ini terlarang
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu

Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya sungguh mencintainya

Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya

Tinggal Kenangan

Pernah Ada
Rasa Cinta
Antara Kita
Kini Tinggal Kenangan

Ingin Kulupakan
Semua Tentang Dirimu
Namun Tak Lagi
Kan Seperti Dirimu Oh Bintangku

Jauh Kau Pergi
Meninggalkan Diriku
Disini Aku
Merindukan Dirimu

Kini Kucoba
Mencari Penggantimu
Namun Tak Lagi
Kan Seperti Dirimu Oh Kekasih

Cintaku tak seindah pelangi…

Lagu dan milik padi berkumandang dari Boombox disudut kamar Sishe. Sishe menelungkupkan kepalanya kebantal dan air matapun mengalir.

Lagu itu mengingatkanya pada mief..

Setelah Mief lulus SMU mereka berpisah .

Mief melanjutkan studinya di salah satu PTN dengan jurusan teknik elektro sesuai cita-citanya.

Siang itu bel berbunyi tanda selesainya kegiatan belajar mengajar di sekolah Sishe. Nampak di depan pagar sekolah si She, Mief berdiri tegak menunggunya. Sishe melihatnya dari kejauhan, “ingin pamitkah dia?…”

gumamnya sambil berjalan kearah cowok itu, tak lama tangan si She diraihnya dan melesatlah mobil biru kesebuah tempat yang pertama kali mief mengajaknya. Penuh kelembutan sinar mata mief menyapu wajah gadis kecil itu, ada kata-kata yang baginya berat untuk disampaikan. Sementara keteduhan terpancar dari mata si She.

Perasaan yang tak ingin berpisah seolah begitu dalam menyentuh kedasar hati mereka.

“She, kita tau betapa dalam perasaan kita namun ijinkan aku untuk pergi mewujudkan cita-cita demi masa depan kita”

Dengan senyuman Sishe berkata

“Doaku bersamamu mief meski kita jauh jangan pernah lupakan gadis kecilmu ini”

“pasti..!”

sahut mief dengan senyuman.

“Kapan kamu berangkat?”

“besok diantar Ayah sampai Jogja.”

“kuharap kamu disana bisa belajar dengan baik”. Sembari menyeka air mata si she..

“makasih She, kamu juga baekan ya, kuakan pulang kapanpun kamu mau”

tertunduk muka si she “makasih mief”

kemudian diraihnya tangan siShe

“mari kuantar pulang ke kosmu”

bergerak mobil itu tinggalkan tempat yang jadi saksi setia mereka.

Waktu terus berlalu dan cinta mereka bertahta antara jogja dan malang..

Di pejamkan mata siShe sambil bernafas panjang diraihnya gagang telfon yang ia tau itu telfon dari kekasihnya” pakabar She?” suara lembut itu terdengar ditelinga sishe..

“maaf ya sampai saat ini kubelum bisa mengunjungimu karena aku masih sibuk” dengan terbata-bata si she menyahutnya

“gapapa mief semoga kamu sukses dan

aku akan sabar menunggumu”

“makasih She”….

Sepanjang malam suara lembut kekasihnya terngiang ditelinga sishe hingga larut malampun tak mampu pejamkan mata indahnya.

Menetes air mata si she

“..mief empat bulan sudah kita tak bertemu dan kemana perginya kamu dimalam minggu setelah kamu menelfonku?”

disambarnya foto diatas meja belajarnya

“mief, aku ingin selalu mempercayaimu dimanapun kau berada, untuk itu aku tak ingin permasalahkan dan mencoba cari tau dimana kamu…

Mif aku menyayangimu!”

Dini hari itu terrlihat bulan mengintipnya dari celah jendela kamarnya….

(Duhai cintaku, duhai pujaanku datang padaku tetap disampingku kuingin hidupku sesalu dalam peluknya..bawa ragaku melayang memelukmu Terang saja aku menantinya, terang saja aku merindunya..karena dia begitu indah…)

Syair itu mengiringi lamunan Sishe..

Dua minggu kemudian,

Sesuai dengan hari yang dijanjikan mief, sabtu itu ia akan datang kekosan Sishe. Dengan hati penuh harap Sishe menunggu kedatangan sang terkasih yang cukup lama ia nantikan. Dengan senyum merekah penuh bahagia dia bercermin

“Mief benarkah kamu akan datang?”

karena tak mampu bersabar sishe menghubungi kekasihnya. ” kamu udah sampe mana mief?” “ku masih dijalan TOL, dua jam lagi kunyampe” sebelum Sishe mengakhiri telfonya terdengar bel yang ternyata itu adalah mief. “bukakan pintu She, aku ada di depan kosmu!!” dengan perasaan tak percaya bercampur bahagia Sishe bukakan pintu sang tercinta. Berdetak kencang jantung Sishe tatkala melihat sesosok manusia berdiri tegap penuh wibawa dengan senyum penuh pesona. Terlihat wajah Sishe merona penuh bahagia. Mereka berjabat tangan dan duduk diruang tamu percakapan panjang diantara mereka ternyata hanyalah membuahkan sebuah keputusan…

“….maaf She semua itu sudah kufikirkan dan mungkin itu keputusan terbaik untuk masa depan kita apalagi kamu tau orangtuaku enggan merestui hubungan kita…!”

Terbeliak mata Sishe tatkala mendengar semua itu, rasa tak percaya dan kecewa menggelayut didadanya

“Mief yakinkah dengan apa yang kau ucap?, mungkinkah cinta kita berakhir dengan perbedaan status?, sebatas itukah cintamu Mief?”

“maaf She…maafkan aku yang selama ini hanya membuatmu menunggu dan meresahkanmu, semoga kau dapatkan yang lebih sayang dan care denganmu dan doaku selalu bersamamu..”

Sabtu yang bersejarah bagi Sishe, airmatanya mengalir seperti harapanya yang mengalir dan menghilang..

Setelah peristiwa menyedihkan itu Sishe tak mampu mencipta senyum. Perasaan sakit, kecewa selalu mendera dihari-harinya. Yang tersisa satu harapan semoga hari depan kan lebih baik untuknya.

<>

((Demi cinta bersandinglah, demi cinta berjanjilah, melangkah kita bersama….))

Masih adakah lagu itu buat She, Mief……????

Nyanyian sendu masa lalu

…..Perlahan pandangannya diarahkan kehujan yang perlahan mulai turun, sudah setahun lebih siShe menghela nafas panjang untuk melupakan peristiwa masa lalunya yang menyedihkan. Selama itu ia lalui dengan masa-masa sulit untuk melupakan sang terkasih. Pengalaman menyedihkan itu sangat mempengaruhi belajarnya.

Disemester 5 tepatnya, seorang cowok bernama Yudha menyapa dalam lembaran baru kisahnya.

Yudha adalah seseorang yang ia

kenal dari kedua orangtua,

yang tak lain adalah teman sekampusnya Namun Yudha jurusan Teknik sipil.

Belum lama mereka saling mengenal tapi Yudha begitu baik dan perhatian padanya.

Hingga akhirnya Yudha mampu membuat SiShe tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Bersamaan dengan jalanya waktu penilaian lebih dalam dilakukan SiShe untuk mengenal Yudha.

“cukup sempurna, dia cowok yang baik, pintar dan care..”

kalimat yang keluar dari mulut Sishe itu memecahkan keheningan malam…

(red : samakah kondisinya dengan masnya untuk saat ini? but simas sadar ko dia gak sempurna seperti Yudha)

Malam itu fikiran Sishe melambung tinggi bersama pertanyaan-pertanyaan yang memadati ruang hatinya, “mungkinkah benar dia menyukaiku atau mungkin atas dasar kemauan ibunya yang bersikeras mempersatukan kami? Namun perhatian serta ucapan Yudha membuatku percaya!!”

Berkerut dahi sishe lalu ia menyambar pena yang tak jauh darinya, meski Yudha anak orang kaya aku tak takut untuk mengenalnya…(Awal kalimat yang tertoreh dibuku harianya)

malam itu tercurah segala kisah tentangnya disertai hembusan angin malam yang seolah mengerti akan suara hatinya..

(Dalam benakku lama tertanam sejuat bayangan diriku redup terasa cayaha hati mengingat apa yang telah kau berikan… waktu berjalan lambat mengiring dalam titian takdir hidupku cukup sudah aku tertahan dalm persimpangan masa silamku…coba tuk melawan getir yang terus kukecap meresap kedalam relung sukmaku…coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu….Semua tak sama…..tak pernah sama…)

dengan sepengetahuan orang tua..Waktu telah mengantarkan kebersamaan mereka…

Terik matahari kian pekat melekat diwajah Sishe sepanjang perjalanan kampus menuju kosnya. Setiba dikos Sishe terlihat sante sambil mendengarkan musik favoritnya. Handphone Sishe berdering dan dilihatnya nama Yudha

” Hi she aku gajadi pulang kerumah hari ini, sebab aku barusan kecelakaan ama teman tapi gaparah ko”.

Dengan nada yang khawatir Sishe menyahut

“Ya udah, bentar lagi aku kesana”

“jangan, jangan kesini nanti malem aja aku ketempatmu oke, bener ya kamu jangan kesini dan tunggu aku aja!”

Dengan berbagai perasaan cemasnya Sishe tak mampu berdiam diri dan menunggu kedatangan Yudha nanti malam. Sishe persiapkan diri ketempat Yudha sore harinya.

Sesampai disana dia lihat teman-temanya Yudha yang terlihat bingung dan serba salah.

“permisi mas bisa bertemu Yudha?”

“silahkan masuk She,Yudha ada tu dikamarnya lagi istirahat”

“Yudha ada tamu..!!” salah satu dari mereka memanggil dengan suara keras

“suruh masuk..!” sahut Yudha dari dalam kamarnya.Lima langkah dari kaki Sishe adalah depan pintu kamar Yudha. Dengan perasaan kaget Sishe melihat gadis berparas cantik sedang merawatnya.

Sementara itu Yudha dengan tangan gemetar melihat dan langsung berdiri seolah ingin menghindari prasangka buruk timbul dari fikiran Sishe. “She kamu sama siapa?”. “sendiri”. Jawabnya dengan nada lirih dan mencoba untuk tetap menguasai diri dari apa yang ia saksikan. “siapa dia mas?” dengan gugup dia berkata “mm..dia… kenalkan dia..” kemudian kedua gadis itu berjabat tangan

“Piet” suara lembut mengenalkan dirinya. “aku She”. Melihat apa yang ada saat itu Sishe mencoba untuk tetap tersenyum serta tenangkan perasaan yang bergemuruh didadanya. “maaf She, aku…aku…”. “sudahlah mas kamu udah ada yang merawat, aku pulang aja dan semoga cepat sembuh”. She melihat gadis itu mengerutkan dahi seolah menangkap keganjilan saat itu.

Langsung Sishe pamit dan bergegas meninggalkan mereka. sebelum sampai teras yudha mengejar dan tarik tangan Sishe “She dengarkan aku, dia itu..” “dia cukup cantik, sudahlah!!” Sishe memotong kalimat Yudha yang mencoba untuk berikan alasan padanya. Dengan cepat Sishe tinggalkan Yudha yang sedang terluka dan memar diwajahnya.

Setiba dikos perasaan kecewa sedih memenuhi kisi-kisi dihatinya,diatas mejanya Sishe telungkupkan kepala

.”Oh God, apa yang telah kusaksikan? Kenapa Yudha tega mempermainkan kepercayaanku? Lantas ucapan dan perhatianya padaku selama ini?” Sishe menyipitkan mata. “Aku kecewa dan sangat menyesalkan tindakanya!” airmata kepedihan kembali mengalir basahi kedua pipi Sishe.

Keesokan harinya…

Cukup lama Sishe menatap Yudha tanpa berkedip. Menatapnya lekat-lekat, tanpa bersuara. Yudha jadi salah tingkah diperlakukan begitu. Dan ia lebih dahulu menunduk, menghindari tatapan Sishe.

“Maaf, She….” ucap Yudha pelan. Ucapan yang lebih dinamakan keluhan dan penyesalan. ” Udahlah mas, aku dah ngerti dan biarkan aku yang pergi..” Akhirnya Sishe bersuara. Jauh lebih keras dari pada suara Yudha. “Pergi gimana maksudmu?” Yudha kembali mendongak untuk menentang tatapan Sishe.

“sudahlah, diantara kita sudah berakhir dan jagalah dia dengan baik, oke!”

“She aku ingin beri penjelasan agar kita tetap bersama, mohon beri aku waktu untuk”

Sishe menyipitkan mata dan langsung menyahut “Yudha aku nggak rela kau menyakitinya, sadar atau tidak,Siapa yang kamu percayai hari itu untuk merawatmu? Dari situlah aku bener-bener nyadar dan sesalkan kenapa kamu tega permainkan kami!”. Yudha kembali menunduk.

“She.. aku yakin kamu tau kalau aku sayang sama kamu, bersamamu aku ngerasa ada sesuatu yang lain..maka berilah aku waktu, She ada yang kamu tidak tau tentang kami dan itu…” berdiri Sishe “maaf aku gapunya banyak waktu, tugas kuliahku saat ini numpuk”. Kalimat itu lebih tepatnya agar Yudha tidak berlama-lama menambah kepedihan dan kekecewaanya yang dalam.

“Sudah… lambat sudah ini semua harus berakhir…mungkin inilah jalan yang terbaik dan kita mesti relakan kenyataan ini…tetaplsh menjadi bintang dilangit agar cinta kitz akan abadi..biarlah sinarmu tetap meyinari alam ini agar menjadi saksi cinta kita berdua…”

Malam hari Sishe merasakan kepedihan dan penyesalan yang mendalam.”Ya Tuhan, kenapa aku tidak mendengarkan ucapan Ibu waktu itu?, bukankah ibu sudah mengatakan padaku agar aku tidak terlalu dekat denganya, atas dasar status sosial diantara kami.”

Duduk termangu sambil memeluk boneka kesayangannya, kekecewaan terpancar diraut wajahnya. Ditariknya nafas dalam-dalam “biarlah semua pergi….dan akupun akan pergi untuk mengalah,ya… mengalah!!”

“Sudahlah aku pergi….lelahkan jiwa meski mengaharap rasakan lagi cinta kita dulu tapi…ha… kita terpisahkan….sudahlah aku pergi….”

(Red : Akankah kisah ini harus berulang meski dg orang yang beda?)

Cinta tak bertuan

Aku mengangkat wajah yang sedari tadi menekuri ujung kuku. Menatap Dwi lurus-lurus. Tapi lagi-lagi ada rasa tak sanggup mengatakanya. Beragam rasa meletup dalam hatiku. Ada kasihan, benci dan penyesalan. Ya, penyesalan karena selama ini aku seolah-olah memberi perhatian balik padanya!

Sekali lagi kuhimpun kekuatan dalam diriku. Kekuatan untuk mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.

” Wie, belajarlah untuk melupakanku. Aku semakin tak mampu bersamamu..” kataku tiba-tiba dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

Dwi seperti terperanjat. “Kamu, kenapa kamu ulangi lagi kalimat itu?”

Aku menggeleng. “Tidak, Wie . kali ini kusangat-sangat serius. Kupikir, itu adalah pilihan terbaik.”Tapi She?”

” Ingat, waktu satu tahun yang terlewati kurasa lebih dari cukup bagi kita untuk saling memahami!” ” Dan ternyata kamu telah..”

“Aku mengerti itu. Tapi..”

“Tapi apalagi?”

“Bukankah disisilain selama ini aku perhatian dan sangat mencintaimu,

Kurang apalagi?”

” Kamu…kumohon jangan buatku lebih sakit, tak mengertikah apa yang aku rasa..?” aku tak mampu lagi berkata-kata. Kerongkonganku seperti ada yang menyumbat….

Sulit dan dikecam ragu untuk menceritakan beban dihatiku dan kebencian yang mendalam. Aku juga ingin mengatakan kalau aku selama ini tidak mencintainya dan sangat terbebani karenanya. Mungkin inilah yang terbaik buat kita dan maafkan aku telah ambil keputusan disaat kau kerjakan TA.

( Dan tak pernah terfikirkan olehku untuk tinggalkan engkau seperti ini…tak terbayangkan jika aku beranjak pergi betapa hancur dan harunya hidupmu….)

Waktu dulu…

kekecewaan yang dalam pada masa laluku mencerminkan sikapku untuk menghindar dari berbagai perhatian cowok. Kulihat kesungguhan Dwi saat itu untuk terus memberi parhatian padaku. Setelah kami melewati keakraban aku menyesal tak dapat mengatasi keadaan ini, rasa itu membuatku sakit dengan sikapku yang beri harapan padanya.

Sempat dipertengahan satu tahun aku berusaha untuk manyadarkan dengan menghentikan hubungan keterpaksaan ini, tapi kebaikanya membuatku untuk memberi kesempatan untuknya. Namun sayang kesempatan itu membuatnya untuk lebih possessive padaku hingga bertemanpun aku sangat dibatasi dan dia mencoba menskat ruang gerakku karena luapan emosi dan kecemburuanya yang tak mendasar.

Aku mengibaskan kepala agar bisa mengahalau galau dihati. Pikiranku semakin kacau oleh semua ketololan yang membiarkanya untuk mengisi hari-hariku. Sebenernya waktu dulu aku sempat menjaga jarak ketika pertama kali melihat rindu di kedalaman mata Dwi. Seharusnya aku menghindari perhatian gencar cowok itu. Ya seharusnya. Bukan malah menunjukkan sikap yang seolah-olah memberi perhatian balik padanya.

Dan sikapku dihari-hari kemarin itu semakin membuatku tersiksa. Aku tak pernah tau kenapa aku dari dulu tak bisa mencintainya. Padahal dia tampan dan perhatian. Malah akhir-akhir ini aku lekat membencinya karena sikap possessivenya yang salah. Ya kebencian berkembang atas perbedaan cara pandang dan kesalahan yang ia perbuat padaku ditambah lagi masa laluku yang menyedihkan terus menderaku.

Namun kenyataannya, didunia ini rencana tak selalu seiring dengan harapan. Itulah yang terjadi padaku. Mimpi-mimpi mungilku tak pernah kesampean.

Dan untuk itu ku selalu coba bunuh sepiku dengan berbagai aktivitasku.

Berangkat dari semua itulah aku menyadari bahwa hatiku semakin jauh darinya dan penyesalan atas kehadiranya tak kunjung padam. Memaksakan cinta memang sebuah kesia-siaan apalagi tanpa didasari kecocokan dan tujuan yang jelas. Untuk itulah dengan segenap kemampuan dan keyakinanku aku mencoba mengatakan kalimat itu. Semoga keputusanku tak salah, ingin menjauh pergi darinya dengan membawa kesedihan ini. Untuk selebihnya aku hanya bisa serahkan padaNya.

“Disaat aku ingin melupamu mengapa km trs menggangguku dlm mimpiku

rasa sakit n gelisah smkn menjadi, otakku masih ada kamu tak adakah kata maaf buatku dan perbaiki kesalahanku agar masa lalu dpt terulang dengan bahagia tanpa rasa kesedihan….SALAM)

4-Oct-03

kalimat yang ia baca dari SMS Dwi.

Menengadah, menatap langit jernih.

Bagaimanapun aku merasa bersalah dan maaf Wie. Karena memang cinta tak bertuan!!

Menghela nafas panjang…untuk sebuah kelegaan.

Akhirnya… (sebuah awal perjalanan hidup)

Dengan sisa-sisa keceriaan yang ada, Sishe terus melangkah meninggalkan segala kenangan masa lalunya dan berharap untuk meraih kebahagiaan dimasa datang.

Teruslah melangkah She, semua belum berakhir dan lihatlah hari mendatang terbentang untukmu wujudkan segala impian.

Dasari langkahmu dengan ketulusan yang hanya mencari ridlo-Nya semata.

Semoga kau dapatkan She!

******

((Bagai serpih-serpih pasir di pantai tersapu gelombang pasang…..))

Adakah lagu itu untuk Sishe? Dan dari siapa

Atau lagu Mahadewi yang pas buat Sishe saat ini??

Yups, itulah cerita cinta dari Sishe

dan bagi yang telah membacanya

sampaikan salam cintaku buatnya

(red : mief ? Yudha? Dwi? or ?)

Wassalam.

Terakhir… (awal dalam melangkah)

Dengan sisa-sisa keceriaan yang ada, Sishe terus melangkah meninggalkan segala kenangan masa lalunya dan berharap untuk meraih kebahagiaan dimasa datang.

Teruslah melangkah She, semua belum berakhir dan lihatlah hari mendatang terbentang untukmu wujudkan segala impian.

Dasari langkahmu dengan ketulusan yang hanya mencari ridlo-Nya semata.

Semoga kau dapatkan She!

******

((Bagai serpih-serpih pasir di pantai tersapu gelombang pasang…..))

Adakah lagu itu untuk Sishe? Dan dari siapa Atau lagu Mahadewi yang pas buat Sishe saat ini??

Yups, itulah cerita cinta dari Sishe dan bagi yang telah membacanya  sampaikan salam cintaku buatnya

Cinta tak bertuan

Aku mengangkat wajah yang sedari tadi menekuri ujung kuku. Menatap Dwi lurus-lurus. Tapi lagi-lagi ada rasa tak sanggup mengatakanya. Beragam rasa meletup dalam hatiku. Ada kasihan, benci dan penyesalan. Ya, penyesalan karena selama ini aku seolah-olah memberi perhatian balik padanya!

Sekali lagi kuhimpun kekuatan dalam diriku. Kekuatan untuk mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.

” Wie, belajarlah untuk melupakanku. Aku semakin tak mampu bersamamu..” kataku tiba-tiba dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

Dwi seperti terperanjat. “Kamu, kenapa kamu ulangi lagi kalimat itu?”

Aku menggeleng. “Tidak, Wie . kali ini kusangat-sangat serius. Kupikir, itu adalah pilihan terbaik.”Tapi She?”

” Ingat, waktu satu tahun yang terlewati kurasa lebih dari cukup bagi kita untuk saling memahami!” ” Dan ternyata kamu telah..”

“Aku mengerti itu. Tapi..”

“Tapi apalagi?”

“Bukankah disisilain selama ini aku perhatian dan sangat mencintaimu,

Kurang apalagi?”

” Kamu…kumohon jangan buatku lebih sakit, tak mengertikah apa yang aku rasa..?” aku tak mampu lagi berkata-kata. Kerongkonganku seperti ada yang menyumbat….

Sulit dan dikecam ragu untuk menceritakan beban dihatiku dan kebencian yang mendalam. Aku juga ingin mengatakan kalau aku selama ini tidak mencintainya dan sangat terbebani karenanya. Mungkin inilah yang terbaik buat kita dan maafkan aku telah ambil keputusan disaat kau kerjakan TA.

( Dan tak pernah terfikirkan olehku untuk tinggalkan engkau seperti ini…tak terbayangkan jika aku beranjak pergi betapa hancur dan harunya hidupmu….)

Waktu dulu…

kekecewaan yang dalam pada masa laluku mencerminkan sikapku untuk menghindar dari berbagai perhatian cowok. Kulihat kesungguhan Dwi saat itu untuk terus memberi parhatian padaku. Setelah kami melewati keakraban aku menyesal tak dapat mengatasi keadaan ini, rasa itu membuatku sakit dengan sikapku yang beri harapan padanya.

Sempat dipertengahan satu tahun aku berusaha untuk manyadarkan dengan menghentikan hubungan keterpaksaan ini, tapi kebaikanya membuatku untuk memberi kesempatan untuknya. Namun sayang kesempatan itu membuatnya untuk lebih possessive padaku hingga bertemanpun aku sangat dibatasi dan dia mencoba menskat ruang gerakku karena luapan emosi dan kecemburuanya yang tak mendasar.

Aku mengibaskan kepala agar bisa mengahalau galau dihati. Pikiranku semakin kacau oleh semua ketololan yang membiarkanya untuk mengisi hari-hariku. Sebenernya waktu dulu aku sempat menjaga jarak ketika pertama kali melihat rindu di kedalaman mata Dwi. Seharusnya aku menghindari perhatian gencar cowok itu. Ya seharusnya. Bukan malah menunjukkan sikap yang seolah-olah memberi perhatian balik padanya.

Dan sikapku dihari-hari kemarin itu semakin membuatku tersiksa. Aku tak pernah tau kenapa aku dari dulu tak bisa mencintainya. Padahal dia tampan dan perhatian. Malah akhir-akhir ini aku lekat membencinya karena sikap possessivenya yang salah. Ya kebencian berkembang atas perbedaan cara pandang dan kesalahan yang ia perbuat padaku ditambah lagi masa laluku yang menyedihkan terus menderaku.

Namun kenyataannya, didunia ini rencana tak selalu seiring dengan harapan. Itulah yang terjadi padaku. Mimpi-mimpi mungilku tak pernah kesampean.

Dan untuk itu ku selalu coba bunuh sepiku dengan berbagai aktivitasku.

Berangkat dari semua itulah aku menyadari bahwa hatiku semakin jauh darinya dan penyesalan atas kehadiranya tak kunjung padam. Memaksakan cinta memang sebuah kesia-siaan apalagi tanpa didasari kecocokan dan tujuan yang jelas. Untuk itulah dengan segenap kemampuan dan keyakinanku aku mencoba mengatakan kalimat itu. Semoga keputusanku tak salah, ingin menjauh pergi darinya dengan membawa kesedihan ini. Untuk selebihnya aku hanya bisa serahkan padaNya.

“Disaat aku ingin melupamu mengapa km trs menggangguku dlm mimpiku

rasa sakit n gelisah smkn menjadi, otakku masih ada kamu tak adakah kata maaf buatku dan perbaiki kesalahanku agar masa lalu dpt terulang dengan bahagia tanpa rasa kesedihan….SALAM)

4-Oct-03

kalimat yang ia baca dari SMS Dwi.

Menengadah, menatap langit jernih.

Bagaimanapun aku merasa bersalah dan maaf Wie. Karena memang cinta tak bertuan!!

Menghela nafas panjang…untuk sebuah kelegaan

Nyanyian sendu masa lalu

…..Perlahan pandangannya diarahkan kehujan yang perlahan mulai turun, sudah setahun lebih siShe menghela nafas panjang untuk melupakan peristiwa masa lalunya yang menyedihkan. Selama itu ia lalui dengan masa-masa sulit untuk melupakan sang terkasih. Pengalaman menyedihkan itu sangat mempengaruhi belajarnya.

Disemester 5 tepatnya, seorang cowok bernama Yudha menyapa dalam lembaran baru kisahnya.

Yudha adalah seseorang yang ia

kenal dari kedua orangtua,

yang tak lain adalah teman sekampusnya Namun Yudha jurusan Teknik sipil.

Belum lama mereka saling mengenal tapi Yudha begitu baik dan perhatian padanya.

Hingga akhirnya Yudha mampu membuat SiShe tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Bersamaan dengan jalanya waktu penilaian lebih dalam dilakukan SiShe untuk mengenal Yudha.

“cukup sempurna, dia cowok yang baik, pintar dan care..”

kalimat yang keluar dari mulut Sishe itu memecahkan keheningan malam…

(red : samakah kondisinya dengan masnya untuk saat ini? but simas sadar ko dia gak sempurna seperti Yudha)

Malam itu fikiran Sishe melambung tinggi bersama pertanyaan-pertanyaan yang memadati ruang hatinya, “mungkinkah benar dia menyukaiku atau mungkin atas dasar kemauan ibunya yang bersikeras mempersatukan kami? Namun perhatian serta ucapan Yudha membuatku percaya!!”

Berkerut dahi sishe lalu ia menyambar pena yang tak jauh darinya, meski Yudha anak orang kaya aku tak takut untuk mengenalnya…(Awal kalimat yang tertoreh dibuku harianya)

malam itu tercurah segala kisah tentangnya disertai hembusan angin malam yang seolah mengerti akan suara hatinya..

(Dalam benakku lama tertanam sejuat bayangan diriku redup terasa cayaha hati mengingat apa yang telah kau berikan… waktu berjalan lambat mengiring dalam titian takdir hidupku cukup sudah aku tertahan dalm persimpangan masa silamku…coba tuk melawan getir yang terus kukecap meresap kedalam relung sukmaku…coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu….Semua tak sama…..tak pernah sama…)

dengan sepengetahuan orang tua..Waktu telah mengantarkan kebersamaan mereka…

Terik matahari kian pekat melekat diwajah Sishe sepanjang perjalanan kampus menuju kosnya. Setiba dikos Sishe terlihat sante sambil mendengarkan musik favoritnya. Handphone Sishe berdering dan dilihatnya nama Yudha

” Hi she aku gajadi pulang kerumah hari ini, sebab aku barusan kecelakaan ama teman tapi gaparah ko”.

Dengan nada yang khawatir Sishe menyahut

“Ya udah, bentar lagi aku kesana”

“jangan, jangan kesini nanti malem aja aku ketempatmu oke, bener ya kamu jangan kesini dan tunggu aku aja!”

Dengan berbagai perasaan cemasnya Sishe tak mampu berdiam diri dan menunggu kedatangan Yudha nanti malam. Sishe persiapkan diri ketempat Yudha sore harinya.

Sesampai disana dia lihat teman-temanya Yudha yang terlihat bingung dan serba salah.

“permisi mas bisa bertemu Yudha?”

“silahkan masuk She,Yudha ada tu dikamarnya lagi istirahat”

“Yudha ada tamu..!!” salah satu dari mereka memanggil dengan suara keras

“suruh masuk..!” sahut Yudha dari dalam kamarnya.Lima langkah dari kaki Sishe adalah depan pintu kamar Yudha. Dengan perasaan kaget Sishe melihat gadis berparas cantik sedang merawatnya.

Sementara itu Yudha dengan tangan gemetar melihat dan langsung berdiri seolah ingin menghindari prasangka buruk timbul dari fikiran Sishe. “She kamu sama siapa?”. “sendiri”. Jawabnya dengan nada lirih dan mencoba untuk tetap menguasai diri dari apa yang ia saksikan. “siapa dia mas?” dengan gugup dia berkata “mm..dia… kenalkan dia..” kemudian kedua gadis itu berjabat tangan

“Piet” suara lembut mengenalkan dirinya. “aku She”. Melihat apa yang ada saat itu Sishe mencoba untuk tetap tersenyum serta tenangkan perasaan yang bergemuruh didadanya. “maaf She, aku…aku…”. “sudahlah mas kamu udah ada yang merawat, aku pulang aja dan semoga cepat sembuh”. She melihat gadis itu mengerutkan dahi seolah menangkap keganjilan saat itu.

Langsung Sishe pamit dan bergegas meninggalkan mereka. sebelum sampai teras yudha mengejar dan tarik tangan Sishe “She dengarkan aku, dia itu..” “dia cukup cantik, sudahlah!!” Sishe memotong kalimat Yudha yang mencoba untuk berikan alasan padanya. Dengan cepat Sishe tinggalkan Yudha yang sedang terluka dan memar diwajahnya.

Setiba dikos perasaan kecewa sedih memenuhi kisi-kisi dihatinya,diatas mejanya Sishe telungkupkan kepala

.”Oh God, apa yang telah kusaksikan? Kenapa Yudha tega mempermainkan kepercayaanku? Lantas ucapan dan perhatianya padaku selama ini?” Sishe menyipitkan mata. “Aku kecewa dan sangat menyesalkan tindakanya!” airmata kepedihan kembali mengalir basahi kedua pipi Sishe.

Keesokan harinya…

Cukup lama Sishe menatap Yudha tanpa berkedip. Menatapnya lekat-lekat, tanpa bersuara. Yudha jadi salah tingkah diperlakukan begitu. Dan ia lebih dahulu menunduk, menghindari tatapan Sishe.

“Maaf, She….” ucap Yudha pelan. Ucapan yang lebih dinamakan keluhan dan penyesalan. ” Udahlah mas, aku dah ngerti dan biarkan aku yang pergi..” Akhirnya Sishe bersuara. Jauh lebih keras dari pada suara Yudha. “Pergi gimana maksudmu?” Yudha kembali mendongak untuk menentang tatapan Sishe.

“sudahlah, diantara kita sudah berakhir dan jagalah dia dengan baik, oke!”

“She aku ingin beri penjelasan agar kita tetap bersama, mohon beri aku waktu untuk”

Sishe menyipitkan mata dan langsung menyahut “Yudha aku nggak rela kau menyakitinya, sadar atau tidak,Siapa yang kamu percayai hari itu untuk merawatmu? Dari situlah aku bener-bener nyadar dan sesalkan kenapa kamu tega permainkan kami!”. Yudha kembali menunduk.

“She.. aku yakin kamu tau kalau aku sayang sama kamu, bersamamu aku ngerasa ada sesuatu yang lain..maka berilah aku waktu, She ada yang kamu tidak tau tentang kami dan itu…” berdiri Sishe “maaf aku gapunya banyak waktu, tugas kuliahku saat ini numpuk”. Kalimat itu lebih tepatnya agar Yudha tidak berlama-lama menambah kepedihan dan kekecewaanya yang dalam.

“Sudah… lambat sudah ini semua harus berakhir…mungkin inilah jalan yang terbaik dan kita mesti relakan kenyataan ini…tetaplsh menjadi bintang dilangit agar cinta kitz akan abadi..biarlah sinarmu tetap meyinari alam ini agar menjadi saksi cinta kita berdua…”

Malam hari Sishe merasakan kepedihan dan penyesalan yang mendalam.”Ya Tuhan, kenapa aku tidak mendengarkan ucapan Ibu waktu itu?, bukankah ibu sudah mengatakan padaku agar aku tidak terlalu dekat denganya, atas dasar status sosial diantara kami.”

Duduk termangu sambil memeluk boneka kesayangannya, kekecewaan terpancar diraut wajahnya. Ditariknya nafas dalam-dalam “biarlah semua pergi….dan akupun akan pergi untuk mengalah,ya… mengalah!!”

“Sudahlah aku pergi….lelahkan jiwa meski mengaharap rasakan lagi cinta kita dulu tapi…ha… kita terpisahkan….sudahlah aku pergi….”

« Entri lama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.