Aku mengangkat wajah yang sedari tadi menekuri ujung kuku. Menatap Dwi lurus-lurus. Tapi lagi-lagi ada rasa tak sanggup mengatakanya. Beragam rasa meletup dalam hatiku. Ada kasihan, benci dan penyesalan. Ya, penyesalan karena selama ini aku seolah-olah memberi perhatian balik padanya!
Sekali lagi kuhimpun kekuatan dalam diriku. Kekuatan untuk mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.
” Wie, belajarlah untuk melupakanku. Aku semakin tak mampu bersamamu..” kataku tiba-tiba dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Dwi seperti terperanjat. “Kamu, kenapa kamu ulangi lagi kalimat itu?”
Aku menggeleng. “Tidak, Wie . kali ini kusangat-sangat serius. Kupikir, itu adalah pilihan terbaik.”Tapi She?”
” Ingat, waktu satu tahun yang terlewati kurasa lebih dari cukup bagi kita untuk saling memahami!” ” Dan ternyata kamu telah..”
“Aku mengerti itu. Tapi..”
“Tapi apalagi?”
“Bukankah disisilain selama ini aku perhatian dan sangat mencintaimu,
Kurang apalagi?”
” Kamu…kumohon jangan buatku lebih sakit, tak mengertikah apa yang aku rasa..?” aku tak mampu lagi berkata-kata. Kerongkonganku seperti ada yang menyumbat….
Sulit dan dikecam ragu untuk menceritakan beban dihatiku dan kebencian yang mendalam. Aku juga ingin mengatakan kalau aku selama ini tidak mencintainya dan sangat terbebani karenanya. Mungkin inilah yang terbaik buat kita dan maafkan aku telah ambil keputusan disaat kau kerjakan TA.
( Dan tak pernah terfikirkan olehku untuk tinggalkan engkau seperti ini…tak terbayangkan jika aku beranjak pergi betapa hancur dan harunya hidupmu….)
Waktu dulu…
kekecewaan yang dalam pada masa laluku mencerminkan sikapku untuk menghindar dari berbagai perhatian cowok. Kulihat kesungguhan Dwi saat itu untuk terus memberi parhatian padaku. Setelah kami melewati keakraban aku menyesal tak dapat mengatasi keadaan ini, rasa itu membuatku sakit dengan sikapku yang beri harapan padanya.
Sempat dipertengahan satu tahun aku berusaha untuk manyadarkan dengan menghentikan hubungan keterpaksaan ini, tapi kebaikanya membuatku untuk memberi kesempatan untuknya. Namun sayang kesempatan itu membuatnya untuk lebih possessive padaku hingga bertemanpun aku sangat dibatasi dan dia mencoba menskat ruang gerakku karena luapan emosi dan kecemburuanya yang tak mendasar.
Aku mengibaskan kepala agar bisa mengahalau galau dihati. Pikiranku semakin kacau oleh semua ketololan yang membiarkanya untuk mengisi hari-hariku. Sebenernya waktu dulu aku sempat menjaga jarak ketika pertama kali melihat rindu di kedalaman mata Dwi. Seharusnya aku menghindari perhatian gencar cowok itu. Ya seharusnya. Bukan malah menunjukkan sikap yang seolah-olah memberi perhatian balik padanya.
Dan sikapku dihari-hari kemarin itu semakin membuatku tersiksa. Aku tak pernah tau kenapa aku dari dulu tak bisa mencintainya. Padahal dia tampan dan perhatian. Malah akhir-akhir ini aku lekat membencinya karena sikap possessivenya yang salah. Ya kebencian berkembang atas perbedaan cara pandang dan kesalahan yang ia perbuat padaku ditambah lagi masa laluku yang menyedihkan terus menderaku.
Namun kenyataannya, didunia ini rencana tak selalu seiring dengan harapan. Itulah yang terjadi padaku. Mimpi-mimpi mungilku tak pernah kesampean.
Dan untuk itu ku selalu coba bunuh sepiku dengan berbagai aktivitasku.
Berangkat dari semua itulah aku menyadari bahwa hatiku semakin jauh darinya dan penyesalan atas kehadiranya tak kunjung padam. Memaksakan cinta memang sebuah kesia-siaan apalagi tanpa didasari kecocokan dan tujuan yang jelas. Untuk itulah dengan segenap kemampuan dan keyakinanku aku mencoba mengatakan kalimat itu. Semoga keputusanku tak salah, ingin menjauh pergi darinya dengan membawa kesedihan ini. Untuk selebihnya aku hanya bisa serahkan padaNya.
“Disaat aku ingin melupamu mengapa km trs menggangguku dlm mimpiku
rasa sakit n gelisah smkn menjadi, otakku masih ada kamu tak adakah kata maaf buatku dan perbaiki kesalahanku agar masa lalu dpt terulang dengan bahagia tanpa rasa kesedihan….SALAM)
4-Oct-03
kalimat yang ia baca dari SMS Dwi.
Menengadah, menatap langit jernih.
Bagaimanapun aku merasa bersalah dan maaf Wie. Karena memang cinta tak bertuan!!
Menghela nafas panjang…untuk sebuah kelegaan.