…..Perlahan pandangannya diarahkan kehujan yang perlahan mulai turun, sudah setahun lebih siShe menghela nafas panjang untuk melupakan peristiwa masa lalunya yang menyedihkan. Selama itu ia lalui dengan masa-masa sulit untuk melupakan sang terkasih. Pengalaman menyedihkan itu sangat mempengaruhi belajarnya.
Disemester 5 tepatnya, seorang cowok bernama Yudha menyapa dalam lembaran baru kisahnya.
Yudha adalah seseorang yang ia
kenal dari kedua orangtua,
yang tak lain adalah teman sekampusnya Namun Yudha jurusan Teknik sipil.
Belum lama mereka saling mengenal tapi Yudha begitu baik dan perhatian padanya.
Hingga akhirnya Yudha mampu membuat SiShe tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Bersamaan dengan jalanya waktu penilaian lebih dalam dilakukan SiShe untuk mengenal Yudha.
“cukup sempurna, dia cowok yang baik, pintar dan care..”
kalimat yang keluar dari mulut Sishe itu memecahkan keheningan malam…
(red : samakah kondisinya dengan masnya untuk saat ini? but simas sadar ko dia gak sempurna seperti Yudha)
Malam itu fikiran Sishe melambung tinggi bersama pertanyaan-pertanyaan yang memadati ruang hatinya, “mungkinkah benar dia menyukaiku atau mungkin atas dasar kemauan ibunya yang bersikeras mempersatukan kami? Namun perhatian serta ucapan Yudha membuatku percaya!!”
Berkerut dahi sishe lalu ia menyambar pena yang tak jauh darinya, meski Yudha anak orang kaya aku tak takut untuk mengenalnya…(Awal kalimat yang tertoreh dibuku harianya)
malam itu tercurah segala kisah tentangnya disertai hembusan angin malam yang seolah mengerti akan suara hatinya..
(Dalam benakku lama tertanam sejuat bayangan diriku redup terasa cayaha hati mengingat apa yang telah kau berikan… waktu berjalan lambat mengiring dalam titian takdir hidupku cukup sudah aku tertahan dalm persimpangan masa silamku…coba tuk melawan getir yang terus kukecap meresap kedalam relung sukmaku…coba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu….Semua tak sama…..tak pernah sama…)
dengan sepengetahuan orang tua..Waktu telah mengantarkan kebersamaan mereka…
Terik matahari kian pekat melekat diwajah Sishe sepanjang perjalanan kampus menuju kosnya. Setiba dikos Sishe terlihat sante sambil mendengarkan musik favoritnya. Handphone Sishe berdering dan dilihatnya nama Yudha
” Hi she aku gajadi pulang kerumah hari ini, sebab aku barusan kecelakaan ama teman tapi gaparah ko”.
Dengan nada yang khawatir Sishe menyahut
“Ya udah, bentar lagi aku kesana”
“jangan, jangan kesini nanti malem aja aku ketempatmu oke, bener ya kamu jangan kesini dan tunggu aku aja!”
Dengan berbagai perasaan cemasnya Sishe tak mampu berdiam diri dan menunggu kedatangan Yudha nanti malam. Sishe persiapkan diri ketempat Yudha sore harinya.
Sesampai disana dia lihat teman-temanya Yudha yang terlihat bingung dan serba salah.
“permisi mas bisa bertemu Yudha?”
“silahkan masuk She,Yudha ada tu dikamarnya lagi istirahat”
“Yudha ada tamu..!!” salah satu dari mereka memanggil dengan suara keras
“suruh masuk..!” sahut Yudha dari dalam kamarnya.Lima langkah dari kaki Sishe adalah depan pintu kamar Yudha. Dengan perasaan kaget Sishe melihat gadis berparas cantik sedang merawatnya.
Sementara itu Yudha dengan tangan gemetar melihat dan langsung berdiri seolah ingin menghindari prasangka buruk timbul dari fikiran Sishe. “She kamu sama siapa?”. “sendiri”. Jawabnya dengan nada lirih dan mencoba untuk tetap menguasai diri dari apa yang ia saksikan. “siapa dia mas?” dengan gugup dia berkata “mm..dia… kenalkan dia..” kemudian kedua gadis itu berjabat tangan
“Piet” suara lembut mengenalkan dirinya. “aku She”. Melihat apa yang ada saat itu Sishe mencoba untuk tetap tersenyum serta tenangkan perasaan yang bergemuruh didadanya. “maaf She, aku…aku…”. “sudahlah mas kamu udah ada yang merawat, aku pulang aja dan semoga cepat sembuh”. She melihat gadis itu mengerutkan dahi seolah menangkap keganjilan saat itu.
Langsung Sishe pamit dan bergegas meninggalkan mereka. sebelum sampai teras yudha mengejar dan tarik tangan Sishe “She dengarkan aku, dia itu..” “dia cukup cantik, sudahlah!!” Sishe memotong kalimat Yudha yang mencoba untuk berikan alasan padanya. Dengan cepat Sishe tinggalkan Yudha yang sedang terluka dan memar diwajahnya.
Setiba dikos perasaan kecewa sedih memenuhi kisi-kisi dihatinya,diatas mejanya Sishe telungkupkan kepala
.”Oh God, apa yang telah kusaksikan? Kenapa Yudha tega mempermainkan kepercayaanku? Lantas ucapan dan perhatianya padaku selama ini?” Sishe menyipitkan mata. “Aku kecewa dan sangat menyesalkan tindakanya!” airmata kepedihan kembali mengalir basahi kedua pipi Sishe.
Keesokan harinya…
Cukup lama Sishe menatap Yudha tanpa berkedip. Menatapnya lekat-lekat, tanpa bersuara. Yudha jadi salah tingkah diperlakukan begitu. Dan ia lebih dahulu menunduk, menghindari tatapan Sishe.
“Maaf, She….” ucap Yudha pelan. Ucapan yang lebih dinamakan keluhan dan penyesalan. ” Udahlah mas, aku dah ngerti dan biarkan aku yang pergi..” Akhirnya Sishe bersuara. Jauh lebih keras dari pada suara Yudha. “Pergi gimana maksudmu?” Yudha kembali mendongak untuk menentang tatapan Sishe.
“sudahlah, diantara kita sudah berakhir dan jagalah dia dengan baik, oke!”
“She aku ingin beri penjelasan agar kita tetap bersama, mohon beri aku waktu untuk”
Sishe menyipitkan mata dan langsung menyahut “Yudha aku nggak rela kau menyakitinya, sadar atau tidak,Siapa yang kamu percayai hari itu untuk merawatmu? Dari situlah aku bener-bener nyadar dan sesalkan kenapa kamu tega permainkan kami!”. Yudha kembali menunduk.
“She.. aku yakin kamu tau kalau aku sayang sama kamu, bersamamu aku ngerasa ada sesuatu yang lain..maka berilah aku waktu, She ada yang kamu tidak tau tentang kami dan itu…” berdiri Sishe “maaf aku gapunya banyak waktu, tugas kuliahku saat ini numpuk”. Kalimat itu lebih tepatnya agar Yudha tidak berlama-lama menambah kepedihan dan kekecewaanya yang dalam.
“Sudah… lambat sudah ini semua harus berakhir…mungkin inilah jalan yang terbaik dan kita mesti relakan kenyataan ini…tetaplsh menjadi bintang dilangit agar cinta kitz akan abadi..biarlah sinarmu tetap meyinari alam ini agar menjadi saksi cinta kita berdua…”
Malam hari Sishe merasakan kepedihan dan penyesalan yang mendalam.”Ya Tuhan, kenapa aku tidak mendengarkan ucapan Ibu waktu itu?, bukankah ibu sudah mengatakan padaku agar aku tidak terlalu dekat denganya, atas dasar status sosial diantara kami.”
Duduk termangu sambil memeluk boneka kesayangannya, kekecewaan terpancar diraut wajahnya. Ditariknya nafas dalam-dalam “biarlah semua pergi….dan akupun akan pergi untuk mengalah,ya… mengalah!!”
“Sudahlah aku pergi….lelahkan jiwa meski mengaharap rasakan lagi cinta kita dulu tapi…ha… kita terpisahkan….sudahlah aku pergi….”
(Red : Akankah kisah ini harus berulang meski dg orang yang beda?)